Rabu, 25 Januari 2012

Contoh Laporan Dasar-Dasar Perikanan Tangkap


I.  PENDAHULUAN

1.1   Latar Belakang
Hasil tangkapan merupakan hasil yang diperoleh dari kegiatan perikanan tangkap. Mayoritas dari hasil tangkapan adalah ikan yang mendominasi di perairan tersebut. Sebelum digunakan menjadi bahan baku industri, hasil tangkapan tersebut diangkut ke pelabuhan setelah  Hasil tangkapan tersebut dapat diolah menjadi bahan baku industi yang nantinya dapat digunakan untuk pembuatan produk olahan lainnya. Beberapa ikan tetentu
Hasil tangkapan yang dijadikan bahan baku industri biasanya tergantung dari spesies dominan yang diperoleh dari kegiatan penangkapan. Pada negara Amerika Latin, khususnya Chili, beberapa hasil tangkapan yang diperoleh  biasanya ikan pelagis seperti makarel, sarden, ikan teri, dan ikan tenggiri. Ikan-ikan tersebut sering digunakan sebagai bahan baku industri untuk pembuatan tepung ikan, minyak ikan, dan pengalengan ikan. Dalam hal ini sarden dan ikan teri merupakan hasil tangkapan yang banyak dijadikan sebagai bahan baku imdustri.
Sarden merupakan sebuah kelompok ikan pelagis yang berlimpah dan didistribusikan ke seluruh dunia. Sarden merupakan hasil tangkapan perikanan yang sangat penting dari sudut pandang ekonomi dan makanan. Pada tahun 1986, menurut FAO, menangkapnya mencapai 23.942.744 ton dan pada dasarnya terdiri atas Sardinella, Sardinopa, dan sarden jender Sardina. Chile merupakan salah satu negara yang memproduksi dan mengekspor sarden kaleng untuk keperluan konsumsi. Selain sarden, ikan teri juga dijadikan sebagai bahan baku industri di Chili. Ikan teri dijadikan bahan baku dalam pembuatan tepung ikan sehingga Chili merupakan salah satu negara pengasil tepung ikan yang digunakan untuk pakan ikan.
 Perikanan sarden dan ikan teri merupakan salah satu hasil tangkapan yang telah berhasil dijadikan sebagai bahan baku industri. Namun tetap tidak dapat dikonsumsi langsung, sehingga diperlukan aktivitas seperti pengolahan untuk mendapatkan bahan baku industi yang mempunyai kualitas yang baik.
Berdasarkan pada kondisi tersebut, ikan sebagai hasil tangkapan dan juga sebagai bahan baku industri harus mendapatkan penangan yang cepat karena mudah mengalami penurunan mutu. Hasil tangkapan yang dijadikan sebagai bahan baku harus diperhatikan dari segi kualitas agar produk yang dihasilkan dari bahan baku industri tersebut mempunyai kualitas yang baik.
1.2   Tujuan
Pembuatan makalah ini bertujuan untuk mengetahui hasil tangkapan apa saja yang diperoleh di Amerika Latin, khusunya di Negara Chili. Selain itu mengetahui apa yang dimaksud dengan bahan baku industri. Bukan hanya itu, dapat mengetahui apa saja produk yang dapat dihasilkan dari bahan baku industri tersebut

.

II.   TINJAUAN PUSTAKA
Industri perikanan adalah kegiatan atau usaha yang dilakukan dalam bidang perikanan untuk mencapai tujuan dengan menggunakan paket-paket teknologi. Faktor utama yang mendukung pengembangan industri perikanan khususnya pada kegiatan industri penangkapan ikan adalah dengan tersedianya prasarana pelabuhan perikanan sebagai tempat berlabuhnya kapal perikanan, tempat melakukan kegiatan bongkar muat hasil perikanan dan sarana produksi dan produksi, sehingga fungsi pelabuhan perikanan menjadi sangat luas. Pelabuhan perikanan merupakan kawasan pengembangan industri perikanan, karena pembangunan pelabuhan perikanan di suatu daerah atau wilayah merupakan embrio pembangunan perekonomian.
Keberadaan pelabuhan perikanan dalam arti fisik, seperti kapasitas pelabuhan harus mampu mendorong kegiatan ekonomi lainnya sehingga pelabuhan perikanan menjadi suatu kawasan pengembangan industri perikanan. Salah satu industri perikanan yang dapat diterapkan di pelabuhan perikanan adalah ikan sarden dan ikan teri. Kedua jenis ikan ini merupakan ikan yang komersial dan ekonomis penting baik dalam negeri maupun luar negeri, khususnya Amerika Latin yang merupakan salah satu negara maju dalam bidang perikanan.
Ikan merupakan salah satu hasil perairan yang banyak dimanfaatkan oleh manusia karena beberapa kelebihannya, antara lain merupakan sumber protein hewani yang sangat potensial karena pada daging ikan dapat dijumpai senyawa yang sangat penting bagi manusia yaitu karbohidrat, lemak, protein, garam-garam mineral dan vitamin (Buckle et al. 1985 dalam Rahayu 1992). Kandungan zat-zat gizi tersebut menyebabkan ikan sangat diminati oleh masyarakat sehingga kebutuhan ikan semakin meningkat dengan berjalannya waktu. Di pasaran, ikan tidak hanya ditemukan dalam keadaan segar tetapi juga ditemukan dalam bentuk kemasan, baik dalam bentuk kaleng maupun plastik, hal ini akan memberikan kemudahan bagi para konsumen dalam pengolahannya.
Salah satu produk industri ikan yang banyak ditemukan di pasaran adalah ikan kaleng (Sardines) kemasan, yang komposisinya terdiri dari ikan, pasta tomat, saus pepaya, garam dan pengawet. Ikan yang digunakan untuk produk ikan kaleng (Sardines) kemasan ini ada bermacam-macam antara lain ikan Sarden, ikan Tuna, ikan Kembung, ikan Kakap dan ikan Salam.
Pengalengan merupakan salah satu teknik pengolahan modern yang dapat menghasilkan produk olahan dengan daya awet tinggi dan steril secara komersial  yang bebas dari bakteri-bakteri patogen (Muljanah dan Murniyati 2009). Moeljanto (1990) menyatakan lemak merupakan salah satu komponen yang menyebabkan rasa enak. Ikan yang cocok diolah dengan pengalengan adalah ikan yang memiliki kadar lemak tinggi yaitu 10-15%. Adapun tahap atau proses pengalengan ikan sebagai berikut:
III.                a. Penyediaan dan pemilihan bahan mentah.
IV.                b. Pengawetan bahan mentah.
V.                  c. Penyiangan dan pencucian.
VI.                d. Perlakuan terhadap bahan mentah sebelum di kaleng.
VII.              e. Pengisian ke dalam kaleng.
VIII.            f. Pengeluaran udara dan penutupan kaleng.
IX.                g. Penambahan saus.
X.                  h. Penutupan kaleng.
XI.                i. Pemanasan atau sterilisasi.
XII.              j. Pendinginan.
XIII.            k. Pemasangan tabel.
XIV.            Hasil tangkapan ikan yang dijadikan bahan baku industri sangat beragam. Bahan baku industri ini biasanya dalam bentuk segar. 
Contoh pengahasil ikan terbesar adalah Amerika Latin. Amerika Latin adalah sebutan untuk wilayah benua Amerika yang sebagian besar penduduknya merupakan penutur asli bahasa-bahasa Roman (terutama bahasa Spanyol dan bahasa Portugis) yang berasal dari bahasa Latin. Istilah Amerika Latin dipakai untuk membedakan wilayah ini dengan wilayah Anglo-Amerika yang kadang-kadang dipakai untuk menyebut wilayah benua Amerika dengan mayoritas penduduk adalah penutur asli bahasa Inggris.  Di bagian selatan Amerika terdapat sebuah Negara yaitu Chili. Chili merupakan sebuah negara yang "kurus" membujur di sepanjang pesisir barat Amerika Latin, membelah hampir seluruh garis batas sebelah timur, sebagian dari Argentina, berbatasan dengan Bolivia di utara atau timur laut dan dengan Peru di ujung utara barat laut. Secara historis Chile adalah salah satu mitra dagang utama Indonesia di kawasan Amerika Selatan. Berdasarkan hasil survey pasar yang dilakukan oleh KBRI Santiago diperoleh informasi mengenai komoditi ekspor utama Indonesia ke Chile, yaitu bahan dan produk kimia, karet dan produk dari karet, tekstil, batubara, komponen elektronik, peralatan komputer, sepatu, pakaian jadi, bahan makanan dan glassware. Produk-produk Indonesia yang juga memiliki potensi untuk memasuki pasar Chile antara lain handicraft dan souvenir, bahan bangunan, alat kesehatan, aksesori dan suku cadang kendaraan bermotor, peralatan dapur, produk plastik. Selain itu juga Negara Chili merupakan Negara produk yang kaya akan hasil produksi perairan dan pertaniannya. Di sisi lain, Chili memposisikan dirinya sebagai penyedia terbesar kedua tepung ikan ke China, penyedia terbesar ketiga potongan salmon beku, dan penyedia terbesar keempat anggur botolan. Saat ini, 2% dari ekspor Chile ke China berasal dari sektor makanan, skenario yang menunjukkan cukup banyaknya potensi pertumbuhan.
Produksi ikan sarden di pasaran Chili sangat diminati, karena kebanyakan masyarakat disana mengkonsumsi ikan sebagai bahan pangan. Bahan baku dari ikan sarden biasanya di Negara Chili memanfaatkan ikan tuna.  Dengan semakin populernya konsumsi tuna kaleng di seluruh dunia, maka negara-negara penghasil tuna pun semakin berlomba-lomba untuk meningkatkan produksi tuna kaleng-nya termasuk di Negara Chili. Baik dalam bentuk produk kovensional; seperti tuna kaleng dalam minyak nabati (minyak kedelai, minyak biji bunga matahari), tuna kaleng dalam air garam, tuna kaleng dalam air (spring water, rendah garam). Ataupun dalam bentuk yang memiliki nilai tambah (value added tuna), seperti tuna dalam kemasan pouch, tuna kaleng dalam bumbu (nasi goreng, chili – cabe pedas, mayonnaise) dan lain-lain.
Di tahun 2011 diperkirakan konsumsi tuna dunia bisa mencapai 200 juta karton per tahun (48 kaleng/karton). Tuna kaleng sebanyak 200 juta karton ini diproduksi dalam berbagai ukuran tuna kaleng oleh banyak negara dari berbagai wilayah, meliputi Asia, Amerika, Eropa, Timur Tengah, Afrika dan lain-lain. Tuna kaleng pertama kali diproduksi tahun 1903, dan sejak itu menjadi salah satu makanan yang paling populer di dunia. Di tahun 2009, konsumsi tuna kaleng dunia telah mencapai 180 juta karton per tahun, jumlah ini masih terus bertambah tiap tahunnya. Diperkirakan konsumsi ikan tuna ini bisa mencapai 200 juta karton di tahun 2011 ataupun 2012. Umumnya satu karton tuna kaleng terdiri dari 48 kaleng tuna ukuran retail.
Seiring dengan semakin meningkatnya kebutuhan ikan tuna, baik dalam dan luar negeri, penangkapan ikan tuna pun mulai banyak dilakukan di perairan Indonesia lainnya, seperti Lautan Hindia sebelah barat Pulau Sumatera, sebelah selatan Pulau Jawa, perairan di Nusa Tenggara, perairan di sebelah utara Sulawesi dan perairan sebelah utara Papua. Bahkan di luar negeri pun salah satunya di Negara Chili. Ikan tuna secara tradisional telah lama dikonsumsi secara langsung ataupun dijadikan pindang oleh masyarakat Indonesia. Dengan semakin berkembangnya pabrik pengalengan ikan tuna di berbagai daerah seperti di Sulawesi Utara, Jawa Timur (Banyuwangi, Pasuruan), Papua, Bali, dan Jawa Tengah (Cilacap), penangkapan ikan tuna lokal pun semakin bergairah. Bahkan di luar negeri pun produk pengalengan ikan tuna sangat berkembang. Baik untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri maupun untuk ekspor ke luar negeri. Ekspor ikan tuna ini terutama untuk kebutuhan pabrik tuna kaleng di luar negeri, misalnya perusahaan pengalengan tuna di Thailand.
Teknologi penangkapan ikan tuna di Indonesia masih sederhana dan dilakukan oleh para nelayan setempat. Hal ini berbeda sekali dengan perburuan ikan tuna oleh negara-negara maju seperti Jepang, Korea dan Taiwan. Kapal penangkap (catching vessel) mereka memilik kapasitas 100-200 MT dan kapal pengepul (carrier vessel) 1000-4000 MT, area tangkapannya pun sangat jauh sampai ke ujung lautan Pasifik dan Hindia.
Kapal penangkap para nelayan lokal memiliki kapasitas yang masih kecil, sekitar 3-10 MT (metric ton) dengan jarak jelajah antara 100-200 mil ke tengan laut dan memakan waktu sekitar 1-7 hari bolak-balik.
Jenis-jenis kapal nelayan yang umum dipakai adalah:
  • Payangan (kapasitas 3 MT, jelajah 100 KM ke tengah laut, waktu jelajah 1-2 hari)
  • Sekoci (crew kapal: 6 orang, kapasitas 5 – 10 MT, jelajah 220 mil, waktu jelajah 4-5 hari)
  • Slerek – terdiri dari 2 kapal (besar dan kecil), crew kapal: 30 orang kapasitas 20 MT, jelajah 50 mil.
  • Trawl (crew kapal: 25-30 orang, kapasitas 20-30 MT, jelajah 200 mil lebih ke tengah laut)
Untuk meningkatkan tangkapan ikan tuna, para nelayan menggunakan rumpon sebagai daya tarik agar ikan tuna berkumpul dan berkembang biak di sekitarnya. Rumpon ini berfungsi sebagai “perkampungan” ataupun “rumah” ikan tuna. Secara sederhana rumpon merupakan kumpulan tali / daun-daunan yang dibuat para nelayan dan terapung-apung di tengah laut. Setelah beberapa waktu, di sekitar rumpon akan tumbuh plankton yang akhirnya akan menarik ikan-ikan lain termasuk ikan tuna untuk berkumpul di sekitarnya.
Jenis rumpon:
  • Rumpon tengah, jarak sekitar 220 mil ke tengah laut dengan kedalaman laut 6000 meter
  • Rumpon pinggir, jarak sekitar 50 mil ke tengah laut.
Rumpon akan dibiarkan terapung-apung selama 2-4 bulan sebelum “menghasilkan” ikan tuna.  Agar rumpon ini tidak hanyut terbawa arus air laut, maka rumpon ini “diikat” tali panjang sampai ke dasar laut.
Untuk menentukan dan menemukan posisi rumpon, para nelayan sekarang ini sudah menggunakan bantuan GPS (Global Positioning Systems). Setelah menghasilkan ikan, rumpon ini bisa terus-terusan “dipanen” setiap bulan.
                Selain ikan tuna adapun ikan lemuru yang bisa di jadikan produk kalengan. ikan kalengan juga populer sebagai pilihan lauk cepat saji Di luar negeri, pasaran ikan kaleng pelagis (ikan permukaan laut) didominasi ikan sarden (sardines) dan makarel (mackerel). Khusus produk ikan sarden kalengan domestik, bahan bakunya bisa dipastikan ikan lemuru (Sardinella lemuru). Ikan ini banyak terdapat di Selat Bali, wilayah perairan antara Banyuwangi (Jawa Timur) dan Bali. Dalam versi Inggris, ikan ini disebut bali sardinella. Sementara, yang terkenal sebagai ikan sarden sebetulnya sarden jepang (Sardinella melanostica). Karena nama lemuru kurang memiliki nilai jual, maka yang dicantumkan di dalam kaleng hanya nama depannya. Jadilah si lemuru dijual sebagai sarden atawa sardencis. Mirip kebiasaan artis yang suka memakai nama beken ketimbang nama aslinya. Dengan kata lain, saat “memasak” sarden, tak perlu mencari-cari nama lemuru di kalengnya. Dijamin tidak akan ditemukan. Tapi ini bukan perkara tipu-menipu karena ikan lemuru memang masih sekeluarga sarden-sardenan. Dari segi nutrisi pun ikan lemuru tidak kalah bergizi dibandingkan dengan sarden jepang. Bedanya cuma perkara tempat hidup.
Indonesia sebetulnya punya beberapa jenis sarden. Sebut saja Sardinella longiceps, Sardinella sirm, Sardinella leigaster, dan Sardinella clupeoides. Nama-nama ini merupakan produk tangkapan yang berasal dari Pulau Seribu, Pekalongan, Tegal, dan Pelabuhan Ratu. Hanya saja populasinya relatif kecil sehingga kalah ngetop dengan lemuru selat Bali. Di tempat hidupnya di perairan Selat Bali, ikan ini punya banyak sebutan. Jika ukuran badannya masih mungil (sekitar 10 cm), ia dipanggil semenit atau sempenit. Jika beranjak remaja dan panjang badannya sekitar 12 cm, dijuluki protolan. Pada saat dewasa, ketika mencapai 15 cm, disebut lemuru, tanpa embel-embel. Kalau lebih bongsor lagi, dipanggil lemuru kucing.
Di kalangan penjual ikan segar, lemuru tergolong ikan yang tidak disukai karena gampang busuk. Dulu, ketika industri pengalengan ikan belum berkembang, nasib lemuru tidak berbeda dengan jenis ikan lain yang biasa dijual di pasar tradisional. Pada musim tangkap, nelayan biasa memperoleh lemuru dalam jumlah besar-besaran. Di atas palka, ikan ini ditumpuk begitu saja dengan es balok yang minim. Karena penanganan yang buruk ini, begitu sampai di tempat pelelangan, mutunya cepat sekali merosot. Sering baru separuh terjual, sisanya sudah busuk. Digratiskan pun tidak ada yang mau. Kalau sudah begitu, ikan ini dibuang begitu saja. Karena sifatnya yang cepat busuk, penjualan lemuru segar hanya terbatas di daerah Muncar (Banyuwangi) atau Cupel, Pengambengan, dan Kedonganan). Di luar daerah itu, lemuru dijual sudah dalam bentuk olahan. Mungkin berupa ikan pindang, ikan asin, atau tepung ikan. Namun kisah pilu itu tidak berlangsung lama. Seiring perkembangan industri perikanan, ikan lemuru ikut naik pangkat. Sama seperti ikan tuna dan cakalang. Bedanya, tuna dan cakalang dikalengkan dengan tambahan minyak biji kapuk atau minyak jagung, yang sesuai dengan lidah Barat, lalu diekspor.
Sementara ikan lemuru cukup “direndam” dengan saus tomat, plus sedikit cabai, lalu dijual dengan nama sarden. Istilah kocaknya, ikan tidur pakai bantal tomat. Dengan cara ini, penjualan ikan lemuru tidak hanya mengandalkan pelelangan, tapi bisa masuk industri pengalengan. Tidak semua lemuru bisa dikalengkan tentunya. Hanya lemuru dengan kualitas prima yang diolah. Jika kondisi awalnya sudah rusak, produk akhirnya akan terasa gatal di lidah karena munculnya senyawa histamin. Daging ikan ini mudah hancur. Untuk memperkuat struktur dagingnya, sebelum dikalengkan, ikan ini direndam dalam larutan garam encer 15% selama 15 menit. Selain memperkuat struktur daging, perlakuan ini juga bertujuan untuk menambah rasa lezat.
Di pabrik pengalengan, ukuran lemuru menentukan kelasnya. Lemuru kucing yang badannya gede masuk kemasan kaleng besar. Sedangkan lemuru (tanpa embel-embel) yang ukurannya sedang masuk ke kaleng medium. Sementara protolan yang ukuran badannya lebih mungil masuk ke kaleng ukuran kecil. Dengan baju baru itu, lemuru bisa masuk supermarket, tak perlu takut busuk di tempat pelelangan ikan.    Seperti yang biasa dijumpai di produk sarden kalengan, ukuran panjang ikan ini saat dewasa sekitar 15 – 25 cm. Bentuk tubuhnya memanjang atau mampat ke samping. Warna kulitnya mengilap di bagian perut dan biru di bagian punggung. Di habitatnya, ikan lemuru senang bergerombol membentuk schooling, kelompok yang besar dan padat. Mereka kelompok bukan sekadar untuk ngerumpi masalah poligami, tapi juga karena alasan bertahan hidup. Dengan bergerombol seperti itu, mereka lebih mudah mencari makanan. Makanan mereka plankton (jasad renik) yang banyak terdapat di permukaan laut. Tak hanya fitoplankton (tumbuhan renik) yang dilahap. Zooplankton (hewan renik) pun disantap. Ikan ini terkenal rakus makan plankton. Uniknya, pertumbuhan panjang badannya tidak secepat pertambahan bobot badan. Dalam ilmu perikanan, pola pertumbuhan ini disebut positive allometric. Bobot badannya sudah naik banyak, tapi panjang badannya hanya bertambah sedikit.
Menurut para peneliti, kerakusan lemuru terhadap fitoplankton dan zooplankton ini menyebabkan ikan ini kaya kandungan omega-3, salah satu jenis lemak tak jenuh yang diyakini punya banyak manfaat buat kesehatan. Asal tahu saja, kandungan omega-3 ikan lemuru menjadi bahan disertasi Dr. dr. Siti Fadilah Supari, Sp.JP, yang kini menjadi Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Menurut hasil penelitiannya, kandungan omega-3 dalam ikan itu terbukti memperlentur pembuluh darah dan memperkuat daya tahan otot jantung masyarakat Banyuwangi yang gemar mengonsumsi ikan ini.
Ikan lemuru tergolong ikan musiman. Musim tangkapnya terjadi pada bulan Juni sampai September. Masa ini biasa disebut sebagai musim timur. Pada saat itu, massa air dari dasar lautan naik ke permukaan. Istilah kerennya, upwelling. Massa air dari dasar laut ini kaya nutrisi sehingga menyuburkan plankton di permukaan. Otomatis, ikan lemuru pun panen makanan. Sementara di atas mereka, para nelayan bersiap-siap memasang jaring.
Saat melahap plankton, mereka melakukannya dengan bergerombol membentuk schooling. Ukuran panjang gerombolan lemuru itu bisa mencapai ratusan meter dengan ketebalan (ketinggian) belasan sampai puluhan meter. Pada Bulan Sepetember, bulan puncak panen, ketebalan schooling bisa sampai 50 m. Kepadatannya bisa mencapai 3.000 ekor ikan per m3. Artinya, dalam 1 l air laut terdapat tiga ekor ikan lemuru. Sangat padat.
Ukuran schooling lemuru tergolong besar untuk kelas ikan pelagis di daerah tropis seperti Indonesia. Namun, jika dibandingkan dengan saudaranya, sarden jepang, ukuran schooling lemuru tidak ada apa-apanya. Di daerah empat musim seperti Jepang, ukuran gerombolan ikan sarden bisa mencapai 5 km! Seperti karnaval.
Kebiasaan bergerombol, selain mempermudah mereka mencari makanan, juga mempermudah para nelayan menangkap mereka. Untuk menjerat lemuru, tak perlu alat pengumpul ikan seperti rumpon atau lampu pemikat, seperti yang biasa dipakai nelayan saat berburu ikan layang di Laut Jawa. Para nelayan cukup menggunakan pukat cincin (mereka menyebutnya “jaring kolor”). Alat ini berupa jaring lingkar yang sederhana, berbentuk seperti keranjang kantong raksasa. Jaring ini dipasang di wilayah yang menjadi sarang gerombolan lemuru. Begitu kawanan lemuru terperangkap di dalamnya, diameter jaring kolor dikecilkan dengan cara ujung-ujungnya ditarik. Lalu, lemuru-lemuru malang itu pun tinggal diciduk saja.
Berdasarkan pola migrasinya, pada siang hari kawanan lemuru lebih suka ngumpet di lapisan perariran yang dalam. Pada malam hari, mereka baru naik ke lapisan permukaan. Itu sebabnya pada malam hari, hasil tangkapan dijamin lebih banyak. Ini salah satu kiat sukses jika mau menangguk lemuru. Datang saja malam-malam ke Selat Bali, lalu mainkan kolor, maksudnya jaring kolor, dijamin dapat lemuru. Biasanya, hasil tangkapan semakin melimpah saat musim El-Nino. Suatu musim yang ditandai dengan penurunan suhu permukaan air laut. Biasanya disertai dengan kemarau panjang.
Para nelayan tradisional menandai masa penen lemuru dimulai setelah masa panen cumi-cumi berakhir. Begitu masa panen lemuru berakhir, gerombolan lemuru seolah menghilang begitu saja dari Selat Bali. Bagi nelayan tradisional, raibnya lemuru sepintas tampak misterius, seolah ditelan dasar samudera. Tentu saja mereka tidak hilang begitu saja. Penjelasannya sederhana. Mereka menyebar ke perairan laut lepas yang jauh dari jangkauan jaring kolor. Biasanya hasil tangkapan ikan, ikan yang diperoleh akan di jual ke masyarakat dengan cara pelelangan yang di lakukan di sekitar pantai atau pelabuhan. Fungsi pelabuhan perikanan di luar negeri adalah agar dapat membongkar, menjual atau mentransfer hasil tangkapan ikan ke pasar untuk dijual, lalu dilanjutkan dengan tugas, seperti mengisi suplemen dari persediaan, melakukan perbaikan dan pemeliharaan kapal nelayan, dan memastikan kapal dapat diterapkan untuk navigasi laut. Selain itu, para awak kapal dapat dilengkapi dengan fasilitas rekreasi untuk imbalan jangka panjang mereka bekerja keras bekerja di laut. Dengan pendirian pangkalan penangkapan ikan di luar negeri, kapal-kapal nelayan dapat dioperasikan pada tiga samudra besar untuk jangka panjang dan sebagai hasilnya, efisiensi operasi kapal penangkap ikan telah ditingkatkan dan pengembangan perikanan pelagis telah dipermudah.


XV.              PEMBAHASAN

Hasil tangkapan perikanan diperoleh dari kegiatan penangkapan di perairan. Hasil tersebut dibawa ke pelabuhan untuk dilakukan pengangan selanjutnya. Dalam penangkapan, biasanya hasil yang paling banyak diperoleh dari kegiatan tersebut adalah ikan. Makalah ini membahas tentang hasil tangkapan yang dijadikan suatu bahan baku industri yang selanjutnya bisa dijadikan suatu produk yang bermanfaat dari penggunaan bahan baku tersebut. Negara yang dibahas di sini adalah Chili yang merupakan salah satu negara bagian Amerika Latin. Pembahasan bahan baku industri dalam makalah ini didasarkan dari data yang diperoleh melalui tayangan video-video yang langsung dari negara itu sendiri.
Sebelum membahas mengenai video, adakalanya perlu diketahui bagaimana hasil tangkapan tersebut diproleh. Seperti yang telah diketahui, ikan merupakan komoditas penting bagi ketersedian pangan dunia. Oleh karena itu penyediaan komoditas ikan harus ditingkatkan agar kebutuhannya terpenuhi. Dalam menperoleh komoditas ikan, harus dilakukan serangkangkaian kegiatan penangkapan ikan, mulai dari penyiapan kapal perikanan, pemilihan jenis alat tangkap untuk jenis ikan tertentu, penentuan lokasi penangkapan ikan, penanganan setelah ikan diperoleh, metode penyimpanan yang dipilih, penanganan setelah sampai dipelabuhan sampai akhirnya sampai ke tangan masyarakat. Bahan baku industri perikanan meliputi ikan-ikan hasil tangkapan yang ditangkap melalui kegiatan penagkapan. Biasanya ikan-ikan yang dijadikan bahan baku industri ditangkap dalam skala besar, misalnya menggunakan kapal perikanan besar dengan alat tangkap purse seine, huhate, longline. Kegiatannya juga berlangsung lama ditengah laut, sehingga diperlukan penanganan di atas kapal terlebih dahulu agar ikan yang didapatkan terjaga kualitasnya sampai didaratkan di pelabuhan melalui pembersihan ikan dan penyimpanannya di dalam kapal harus dalam kondisi beku dan ditempatkan dengan baik. Setelah jumlah ikan yang diinginkan terpenuhi, maka kapal akan melakukan pendaratan ke pelabuhan dan mendapatkan penanganan lanjutan.
Pelabuhan di Chili dikelola sejak tahun 1990-an oleh badan pemerintah pusat yang mengatur semua aktivitas pelabuhan. Lokasi geografis memainkan peran penting dalam sistem transportasi Chili sehingga memiliki dampak yang signifikan pada perekonomian negara ini. Lebih dari 90% perdagangan luar negeri di Chili melalui pelabuhan. Namun ada empat hambatan yang mengganggu sektor pelabuhan di Chili yaitu keterbatasan geografis, modal awal, keberlanjutan biaya pemeliharaan dan pengembangan serta pengalaman dalam operasi pelabuhan. Hari demi hari stok ikan dalam kegiataan perikanan di Chili berkurang karena kurangnya kontrol dan regulasi atas perikanan di Samudera Pasifik Selatan. Jack Mackerel (Trachurus murphiy) adalah sasaran utama perikanan di Chili. Oleh karena itu negara melindungi spesies ini melalui program yang ketat. Namun, hasil tangkapan di negara Chili beraneka ragam. Mulai dari ikan salmon, ikan sarden, jack mackerel, dan ikan teri.
  Secara khusus, dalam spesies ini mengalami migrasi sehingga keluar dari batas-batas wilayah kekuasaan Chili. Hal ini menyebabkan gerombolan ikan ini menjadi sasaran penangkapan bagi armada penangkapan ikan di wilayah-wilayah lain. Maksud negara Chili melindungi spesies ikan-ikan tertentu agar juvenil ikan tidak ikut terambil dan dapat dijadikan tepung ikan. Padahal potensinya saat berukuran besar akan lebih menguntungkan. Salah satu spesies utama yang di ekspor ke pasar Amerika adalah Patogonian toothfish (Dissostichus eleginoides) yang dikenal dengan Seabass Chili.
Ikan yang diolah dalam kegiatan industri biasanya dalam bentuk pengasinan, pengeringan, pengasapan, pembekuan, pengalengan, pengawetan dalam air cuka atau air garam. Industrialisasi ikan dan makanan laut yang paling berkembang adalah industri pembekuan, pengalengan, pembuatan tepung ikan dan pembuatan minyak ikan. Meskipun beberapa perusahaan telah melakukan investasi besar, namun kegiatan pengelolahan belum dapat terlaksana dengan baik karena dipengaruhi oleh kurangnya ketersedian bahan baku industri. Untuk memenuhi kurangnya stok bahan baku kadang kala harus dilakukan impor bahan baku dari negara lain. Sebaliknya, jika hasil tangkapan berlebih maka negara akan mengekspor ke negara lain. Namun saat ingin mengirimkan bahan baku atau produk olahan ke negara lain, harus memprioritaskan kualitas karena setiap negara memiliki standar tertentu untuk dapat menerima barang dari negara lain. Secara teknologi, inovasi yang paling penting adalah sistem pendingin agar kualitas ikan tetap terjaga. 
Sebuah industri tepung ikan memerlukan pasokan bahan baku secara teratur. Ketika merencanakan pabrik tepung ikan, perlu untuk mengetahui jenis spesies ikan yang tersedia, panjang musim penangkapan ikan, lokasi adanya ikan, dan alat tangkap yang tepat intuk menangkap ikan, sehingga memungkinkan dapat dilakukan penangkapan ikan pada periode waktu tertentu secara terus menerus. Hampir semua spesies ikan serta organisme hewan laut lainnya pada prinsipnya dapat diubah menjadi tepung ikan. Bahan baku industri ikan yang digunakan pada pembuatan tepung ikan dan minyak ikan pada setiap negara berbeda. Komposisi dan kualitas bahan baku merupakan faktor utama dalam menentukan sifat-sifat dan hasil produk. Pemisahan zat lemak (lipid) dari konstituen lain dari lemak hewan laut adalah salah satu operasi utama dalam pembuatan tepung ikan dan minyak.
Ikan cod (Gadoids) yang memiliki tubuh yang ramping merupakan bahan baku dalam pembuatan tepung ikan putih dan jenis ikan jenis ini menyimpan sebagian besar lemaknya dalam hati. Ikan herring (Clupeids) merupakan sumber bahan baku utama dalam pembuatan tepung ikan dan minyak. Lemak pada ikan ini tidak terkonsentrasi di dalam hati melainkan terdistribusikan ke seluruh tubuh ikan. Ikan makarel (Scombroids) juga merupakan jenis ikan yang memiliki kandungan lemak yang tinggi sehingga dapat dijadikan bahan baku industri minyak ikan. Ikan hiu (Elasmobranch) tidak ditangkap khusus untuk produksi bahan baku minyak ikan tapi dapat digunakan untuk bahan baku industri lainnya. Ikan salmon (Salmonoids) umumnya tidak digunakan sebagai bahan produksi tepung ikan, hanya jeroannya saja yang digunakan untuk tepung ikan. Komposisi ikan sangat bervariasi sepanjang tahun, sampling sistematis dan analisis variasi musiman memberikan informasi penting ketika mempertimbangkan pembentukan industri tepung ikan. Melalui analisis, bahan baku seseorang bisa memperkirakan jumlah tepung ikan dan minyak yang dapat diproduksi karena adanya nilai bahan baku. Kandungan air memberikan angka-angka dasar untuk biaya pengeringan. Ada keterkaitan antara lemak dan air pada ikan, yaitu lemak dan air merupakan konstituen pelengkap karena lemak menggantikan air di dalam daging, karena variasi musiman. Pada jumlah tertentu, bahan baku dapat meningkatkan kandungan lemak yang akan mengarah untuk menghasilkan minyak yang meningkat, permintaan berkurang pada pengeringan energi dan meningkatkan kapasitas pengolahan pabrik.
Beberapa negara, armada penangkapan ikan dan industri tepung ikan adalah suatu hal yang terpisah, komposisi dan tingkat kerusakan bahan baku dapat digunakan sebagai bahan baku untuk mengevaluasi harga. Armada penangkapan ikan dioperasikan sebagai ujung tombak dari kegiatan industri, evaluasi tersebut dapat digunakan untuk memprediksi hasil produk, kualitas dan sebagai kontrol efisiensi produksi. Bagian pengecekan menberi syarat bahwa sampel yang representatif dari hasil tangkapan masing-masing harus dikirimkan untuk analisis di laboratorium kontrol. Kegiatan sampling tidak mudah karena adanya variasi yang cukup besar dalam ukuran, kualitas dan jenis ikan hasil tangkapan. Pada alat tangkap purse seine, ada kecenderungan bahwa ikan yang berukuran kecil akan berada di jaring bagian bawah sedangkan ikan yang berukuran besar akan berada di jaring bagian atas. Hal ini akan berpengaruh pada kondisi fisik ikan, sehingga petugas sampling yang akan melakukan pengecekan di laboratorium harus hati-hati dalam memilih ikan yang mewakili seluruh hasil tangkapan. Waktu sampling yang paling tepat adalah saat pembongkaran kapal penangkap ikan di pelabuhan. Evaluasi bahan baku memerlukan analisis yang tepat terutama menentukan kadar protein, lemak dan air dari ikan hasil tangkapan. Ikan merupakan sumber daya yang mudah rusak kualitasnya, karena adanya aktivitas dari bakteri dan enzimatik. Oleh karena itu harus dilakukan penanganan yang tepat dan cepat terhadap ikan hasil tangkapan. Misalnya digunakan sebagai bahan baku pembuatan tepung ikan, dijadikan makanan kaleng, pembuatan minyak ikan, serta penyediaan ikan segar dengan filleting. Produksi tepung ikan dan minyak dari bahan baku ikan segar memberikan hasil tertinggi dan kualitas produk yang baik.
Ikan hasil tangkapan yang akan digunakan sebagai bahan baku industri biasanya dikeringkan. Hal ini dilakukan untuk memperpanjang umur penyimpanan ikan. Selain itu juga mengurangi aktivitas bakteri yang dapat mengurangi kualitas ikan. Bahan baku ikan segar yang akan dikalengkan biasanya melalui beberapa proses yaitu mulai dari tahapan pembersihan ikan yaitu mengeluarkan isi dalam perutnya, pemisahan kepala dengan badannya, pencucian, peletakan ikan ke dalam kaleng, pemberian bahan-bahan tertentu pada kaleng seperti bumbu, pemasakan, pemberian segel pada kaleng, pensterilan, dan pengepakan yang kemudian disimpan.
Berdasarkan video yang telah didownload, ikan di tangkap dengan bantuan kapal dan selanjutnya dibawa ke pelabuhan. Dalam pelabuhan, ikan dibersihkan terlebih dahulu dengan menggunakan suatu alat teknologi yang sudah dirancang sesuai dengan kegiatannya dan dibantu oleh para petugas dalam pelabuhan tersebut. Ikan tersebut diolah menjadi bahan baku melalui suatu proses yang dilakukan para petugas. Hal itu  menunjukkan bahwa ikan-ikan yang diperoleh dari hasil penangkapan ikan di laut dijadikan sebagai bahan baku untuk pembuatan tepung ikan melalui proses pemasakan, penggilingan, pengurangan kadar air, pengeringan, dan dimasukkan dalam sebuah kantung berukuran tertentu. Selain diolah menjadi tepung ikan, ikan-ikan tersebut juga digunakan sebagai stok ikan segar yang mengalami proses filleting dan pemotongan kepala khususnya pada jenis-jenis ikan salmon. Daging ikan yang sudah difillet dimasukkan ke dalam suatu wadah yang kedap air dan dilakukan proses pengepakan. Setelah proses pengepakan selesai, bahan baku tersebut dimasukkan ke dalam suatu ruangan khusus dengan suhu tertentu untuk menjaga kualitas bahan baku. Bukan hanya itu, ikan mengalami proses pengalengan yang menjadikan ikan dapat dikonsumsi tanpa mengalami proses pembersihan yang sebelumnya dilakukan di dalam pelabuhan. Sama seperti sebelumnya, setelah proses pengalengan selesai, selanjutnya dilakukan proses pengepakan dan diletakkan dalam ruangan khusus. Semua kegiatan tersebut, selanjutnya diangkut dan didistribusikan ke wilayah-wilayah yang memasarkan produk tersebut.
Penangan terhadap hasil tangkapan menjadi bahan baku industri di pelabuhan wilayah Chili cukup bagus. Dilihat dari teknologi yang digunakan serta para petugas yang cepat dalam menangani hasil tangkapan terebut.



XVI.                           PENUTUPAN

16.1                        Kesimpulan
Produksi perikanan di Indonesia maupun di luar negeri sangat meningkat dan berkembang. Disamping sumber kekayaan laut yang melimpah, usaha penangkapan ikan mulai meningkat. Mulai dari penangkapan, pengolahan, pengalengan dan pemasaran.



DAFTAR PUSTAKA
                cucut-shark-di-perairan-samudera-hindia-s.html
Muljanah I dan Murniyati. 2009. Penggunaan plastik HDPE dalam proses
                                sterilisasi panas pada pengolahan ikan kembung (Rastrelliger sp.).
                                Seminar Nasional Perikanan Indonesia, Sekolah Tinggi Perikanan.
Rahayu, W.P. 1992. Teknologi Fermentasi Produk Perikanan.
                Departemen Pusat antar Universitas Pangan dan Gizi Institut 
                Pertanian Bogor. Bogor.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar